Minggu, 20 Maret 2016

Syariah Economics



Ekonomi Berbasis Spiritual
Oleh Prof Dr KH Didin Hafidhuddin

 
Pada 8 Januari 2010, bertempat di Istana Negara, Presiden RI Dr H Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan Gerakan Nasional Wakaf Uang. Beliau bersama Ibu Hj Ani Bambang Yudhoyono, pada kesempatan tersebut, juga mewakafkan uang senilai Rp 100 juta yang diserahkan kepada Badan Wakaf Indonesia (BWI) melalui bank-bank syariah yang sudah ditentukan.
Dicanangkannya gerakan tersebut semakin memperlebar ruang bagi instrumen ekonomi syariah untuk mengambil peran yang lebih besar dalam pembangunan nasional. Apalagi, mengingat potensi wakaf uang yang sangat besar, yang jika dapat digerakkan, dapat menjadi sumber dana pembangunan yang luar biasa. Pada kesempatan yang sama, presiden juga meminta adanya sinkronisasi antara wakaf uang dan zakat karena keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat.

Spiritual economics
Munculnya instrumen pembangunan ekonomi berbasis agama, seperti zakat dan wakaf, sesungguhnya merupakan jawaban atas kegagalan sistem ekonomi konvensional dalam menyelesaikan problematika yang ada. Bagi penulis, pendekatan konvensional yang mencoba memisahkan ajaran agama dengan urusan dunia tidak akan pernah mungkin berhasil diterapkan pada sebuah komunitas masyarakat atau bangsa yang masih memiliki kepercayaan yang kuat terhadap agama. Karena itu, wajarlah jika premis-premis ekonomi yang ‘bebas nilai agama’ justru menciptakan kegagalan ekonomi masyarakat itu sendiri.
Bahkan, di Barat sendiri, saat ini telah muncul gejala kegelisahan jiwa yang teramat dalam akibat terlalu dominannya pendekatan materialisme. Sehingga, sekarang mulai berkembang apa yang dinamakan Spiritual Economics, sebuah mazhab yang mencoba melihat persoalan ekonomi tidak hanya dari perspektif material semata, melainkan juga perspektif spiritual. Kemunculan mazhab ekonomi spiritual ini merupakan antitesis terhadap pendekatan ekonomi neoklasik yang lebih menitikberatkan kesejahteraan pada tingginya angka pendapatan dan pertumbuhan ekonomi semata.
Amit Goswani, seorang pakar asal Universitas Oregon AS, menyatakan bahwa kebutuhan manusia dapat diklasifikasikan ke dalam empat tingkatan. Pertama, kebutuhan material, yaitu kebutuhan yang tingkatannya paling rendah. Kedua, energi vital, yang bersumber dari kekuatan perasaan. Ketiga, kebutuhan mental, yang terkait dengan kekuatan pemikiran. Keempat, kebutuhan supramental, yang terkait dengan etika, cinta, kepedulian terhadap sesama, dan kebahagiaan hakiki.
Goswani menyatakan bahwa ekonomi spiritual harus mampu menyediakan ruang bagi keempat tingkatan kebutuhan manusia tersebut. Salah satu kegagalan ekonomi neoklasik adalah ia lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan materialisme dibandingkan aspek lainnya. Seluruh premis dan teori yang dibangunnya mengasumsikan bahwa manusia hanya sebagai makhluk material semata. Sementara itu, persoalan seperti cinta dan kepedulian sama sekali tidak tercermin dalam asumsi dan teori dasar ilmu ekonomi yang dibangunnya. Padahal, bangunan ilmu inilah yang akan menggerakkan arah sebuah sistem karena sistem sesungguhnya merupakan implementasi dari ilmu. Inilah yang kemudian menciptakan persoalan sosial berkepanjangan. Pendapatan boleh tinggi, namun jiwa mengalami kegelisahan, kekeringan, dan kehampaan.
Islam dan fitrah
Kondisi di atas pada dasarnya merupakan potret atas pengabaian fitrah manusia dalam ekonomi konvensional. Homo economicus merupakan profil manusia yang lebih mengedepankan self interest dibandingkan social interest. Ini tentu saja berbeda dengan homo Islamicus yang menjadikan ketundukan kepada Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya. Bagaimanapun, adalah fitrah manusia untuk selalu dekat dengan Sang Penciptanya (perhatikan QS Arruum: 30). Manusia tidak bisa menjauh dari Allah. Karena, ketika menjauh, ada banyak persoalan yang akan dihadapinya dan akan ada kegelisahan luar biasa yang akan dirasakannya (QS Alhajj: 31).
Karena itu, menerapkan sistem ekonomi yang menjunjung tinggi fitrah manusia adalah sebuah keniscayaan. Di sinilah urgensi menjadikan ekonomi syariah sebagai panglima kebijakan pembangunan. Ekonomi syariah adalah ekonomi yang dibangun di atas fitrah dasar manusia. Pendekataan yang digunakannya lebih humanistik dan sesuai dengan karakter dasar manusia. Contohnya adalah ajaran tentang zakat dan infak.
Meminjam kacamata spiritual economics, instrumen zakat dan infak ini telah memenuhi syarat pemenuhan keempat kebutuhan manusia. Adanya transfer aset dan kekayaan dari kelompok the have kepada kelompok the have not (QS Alhasyr: 7) menunjukkan terjadinya pemenuhan kebutuhan material kelompok dhuafa.
Selanjutnya, bagi muzaki dan munfik, ajaran zakat dan infak akan membersihkan jiwa, hati, dan pikiran (QS Attaubah: 103) sekaligus mendorong munculnya perasaan belas kasih terhadap mereka yang mengalami ketidakberuntungan. Sedangkan, bagi mustahik, keberadaan zakat akan menghilangkan perasaan dengki atas kekayaan yang dimiliki oleh muzaki. Sehingga, akan tercipta paradigma bahwa membela nasib sesama merupakan kebutuhan dasar bagi setiap insan. Pada akhirnya, kondisi ini akan melahirkan kekuatan dan kebersamaan sosial yang sangat tinggi. Dengan membela kaum yang lemah, kesejahteraan ekonomi sekaligus harmonisasi sosial akan berjalan beriringan. Tidak ada konflik di antara keduanya. Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya, kalian akan ditolong dan diberi rezeki karena telah memerhatikan orang-orang yang lemah.”
Sebaliknya, jika yang berkembang adalah logika eksploitasi sekelompok manusia atas kelompok manusia yang lain, kehancuran masyarakatlah yang menjadi hasilnya. Pertumbuhan ekonomi yang dinikmati segelintir kelompok hanya akan menjadi sumber konflik dan destruksi sosial. Karena itu, kembali kepada ekonomi syariah merupakan upaya kita untuk memfitrahkan kembali sistem perekonomian nasional yang lebih mencerminkan keadilan dan kebersamaan. Proses penguatan instrumen ekonomi syariah pada semua tingkatan masyarakat yang saat ini sedang dilakukan harus mendapat dukungan kita semua. Wallahualam.


http://irfansb.blogdetik.com/2010/01/24/refleksi-ekonomi-berbasis-spiritual/

e-Business



Kisah Inspiratif Seorang William Tanuwijaya Pendiri TOKOPEDIA

"Tidak Ada Mimpi yang Terlalu Besar untuk Dicapai"

 




Siapa yang tidak tahu Tokopedia? Salah satu pemain e-commerce besar di Indonesia dengan visinya “Ciptakan Peluangmu”. Saya bertemu dengan Co-Founder sekaligus CEO Tokopedia, William Tanuwijaya, di acara Binus Journalist Gathering beberapa waktu lalu. Lulusan Teknik Informatika Universitas Binus tahun 2003 ini, berbagi pengalamannya dalam membangun dan mengembangkan Tokopedia.
William yang lahir dan besar di Pemantang Siantar, Sumatera Utara, menyebut dirinya sebagai “entrepreneur by necessity” atau wirausaha karena kepepet. Ceritanya, ketika lulus SMA, orang tuanya ingin William memiliki kehidupan yang lebih baik. Dan untuk hal itu, mereka paham bahwa tiketnya adalah pedidikan yang baik.
Ayah dan paman William membelikan tiket kapal sekali jalan ke Jakarta sebagai jalan William melanjutkan pendidikan ke tingkat universitas. Namun ketika kuliah semester awal, ayahnya jatuh sakit dan ia harus berusaha menghidupi diri sendiri tanpa bantuan keluarga. Saat itu, William mencoba bekerja menjadi penjaga warnet di sekitar Binus.
Saya bekerja dari jam 9 malam sampai jam 9 pagi setiap hari. Berat menjalani hal tersebut apalagi dibarengi dengan kewajiban kuliah. Tapi kesempatan menjaga warnet ini menjadi sebuah berkah terselubung bagi saya. Karena pada saat itu, internet cukup mahal dan saya bisa menggunakannya selama 12 jam gratis dan dibayar lagi.
Dari sana, William yang suka membaca buku dari sampul ke sampul, serta mengaku jatuh cinta dengan internet yang bisa memberikan beragam informasi dengan mudah dan cepat hanya dari genggaman tangan atau sentuhan jemari keyboard. “Saya percaya internet suatu saat akan mengubah dunia,” katanya.
Ketika lulus kuliah, seperti kebanyakan anak IT yang ingin bekerja di perusahaan teknologi ternama di dunia seperti Google, namun sayangnya perusahaan tersebut belum memiliki kantor di Indonesia. William bekerja di beberapa perusahaan di Jakarta sampai tahun 2007. “Karena situasi keluarga saya harus mencari tambahan sebagai software engineer di malam hari setelah pulang kerja. Saya banyak diminta untuk membangun situs bagi para UKM. Mereka ingin memiliki website layaknya Bhinneka.com.

Perjalanan menuju marketplace

Pada masa awal William bekerja, media sosial sedang berkembang dan banyak yang menggunakan kesempatan itu untuk berjualan online. Hal tersebut memberikan pandangan baru bagi William, bahwa banyak orang yang sudah melihat kesempatan dan kebutuhan belanja online tapi belum ada platform yang bisa secara aman melayani kebutuhan tersebut.
Menurutnya, ada 3 model bisnis internet pada saat itu:
1.      Iklan baris, seperti yang banyak ada di surat kabar, di Indonesia saat itu sudah banyak website yang menyediakan jasa iklan baris. Dalam hal ini, transaksi melalui telepon, lalu bertemu antara penjual dan pembeli, cek barang, bayar, baru barang diterima oleh si pembeli.
2.      Ritel, yang modelnya seperti supermarket. Mereka menjual produk secara online langsung ke konsumen. Contoh pelaku bisnis ini adalah Bhineka.com.
3.      Marketplace, seperti sebuah mall atau kota dimana banyak yang jualan dan banyak yang berbelanja namun ada aturannya. Konsumen bayar dahulu ke pengelola marketplace, lalu pengelola marketplace konfirmasi ke penjual. Jika barang sudah diterima oleh konsumen, pengelola marketplace akan meneruskan pembayaran ke penjual. Hal ini, menyelesaikan masalah kepercayaan tadi.
Pada saat itu belum ada model bisnis marketplace yang sukses di Indonesia. Dari sana, William termotivasi untuk membangun bisnis marketplace online di Indonesia. Tapi, ia sadar bahwa membangun bisnis marketplace tersebut membutuhkan modal yang tidak sedikit dan ia juga dalam posisi yang tidak memungkinkan menjalankan startup secara bootstrap karena ia harus membantu keluarga dan pengobatan ayahnya.
Terinspirasi oleh para entrepreneur muda dari Sillicon Valley yang menggandeng pemberi modal atau investor yang dapat membantu mengembangkan bisnis mereka, William berusaha untuk mencari dukungan modal. Karena pada saat itu William tidak kenal investor manapun, satu-satunya orang yang ia kenal punya modal, yaitu atasannya di tempat ia bekerja. William mencoba menceritakan ide bisnisnya. Beliau cukup berbaik hati dan memperkenalkan dengan teman-teman yang juga punya modal.
Sayang, selama 2 tahun dia menjajakan ide bisnisnya, tidak ada yang mau membantu. Alasannya karena mereka tidak yakin dengan ide bisnis marketplace tersebut. Pasalnya, belum ada satu pun orang Indonesia yang berhasil, sukses dan kaya dari bisnis internet. Investor tidak pernah melihat uangnya atau untungnya dimana. Dan bagaimana ia bisa bersaing dengan raksasa dari luar negeri seperti eBay. Bahkan suatu hari, ada seseorang yang mencoba mengatakan bila sosok yang kini menjadi CEO ini “hanya” sebagai pemimpi.
"William, kamu datang membawa mimpi tinggi dari Amerika. Kamu masih muda dan hidup hanya sekali dan jangan disia-siakan dengan mimpi yang terlalu tinggi. Semua role model yang kamu bawa dari Amerika yang sukses itu dilahirkan spesial dan kamu tidak special. Mendapat opini seperti itu tentu terasa pahit, tapi hal ini justru tidak membuat William menyerah dan menyadari bahwa bisnis ini tidak mudah dijalankan di Indonesia. William justru tertantang untuk mengubah hal itu."

Tantangan sebagai kesempatan untuk berkembang

Di tahun 2010, sebenarnya banyak investor yang datang ke Indonesia untuk memberi modal, tapi William gagal untuk meyakinkan mereka karena tidak mahir berbahasa Inggris. Tapi ia tidak menyerah untuk mencari dukungan, sampai akhirnya bertemu dengan investor dari Jepang yang ternyata kemampuan bahasa Inggris-nya juga pasif.
"Akhirnya komunikasi melalui ‘telepati’ dan ‘nyambung’. Kesempatan itu menjadi jalan bagi saya untuk mulai belajar berbahasa Inggris. Setiap bulan saya berkomunikasi dengan mereka, berlatih dan pada akhirnya mahir berbahasa Inggris."
Ketika awal membuka Tokopedia, William kembali ke Binus dan membuka booth di sana untuk mengembangkan tim. 2 hari di sana, ia berdiri tapi tidak ada yang mau mendaftar ke Tokopedia. Sementara, di depan booth Tokopedia ada booth salah satu bank terbesar di Indonesia dengan SPG (sales person girl) ramai dikunjungi mahasiswa yang ingin bergabung dengan bank tersebut dan William sebagai seorang pendiri perusahaan berusaha menjual mimpi namun tidak satupun yang mau bergabung di Tokopedia.
Belajar dari pengalaman itu, William mencoba untuk mengalahkan diri sendiri. William yang introvert, belajar untuk lebih baik berkomunikasi. “Saya percaya bahwa produk buatan saya adalah sebagus dirinya dan sebagus orang-orang yang bergabung dengan perusahaannya,” tuturnya.
Oleh karena itu, setiap ada kesempatan, William menceritakan mimpi dan idenya. Dan itu membuka jalan bagi orang-orang yang percaya akan mimpi dan idenya untuk bergabung dengan Tokopedia.”Mereka kini menjadi pemimpin di Tokopedia saat ini. Mereka bergabung karena mereka percaya akan misi Tokopedia,” lanjut William.

Analogi Bambu Runcing

William menganalogikan Tokopedia seperti bambu runcing. Seperti pejuang Indonesia yang membawa bambu runcing untuk merebut kemerdekaan yang melambangkan 3 hal.
1. Keberanian
William merasa beruntung karena memilih untuk berani percaya kepada diri sendiri ketika tidak ada orang yang percaya padanya. Percaya pada mimpinya, ketika tidak ada orang lain yang percaya akan mimpinya. Ia tahu bahwa masa lalu sudah tidak bisa diubah namun, ia percaya masa depan ada di tangannya.
2. Kegigihan
Seluruh perjalanan Tokopedia dari awal hingga saat ini adalah tentang kegigihan. William membutuhkan waktu 2 tahun untuk meyakinkan investor pertama untuk menanamkan modal ke Tokopedia. Dalam perjalanannya ternyata tidak mudah karena 6 bulan setelah itu, eBay datang ke Indonesia dan menggandeng Telkom, perusahaan telekomunikasi raksasa Indonesia. Dan beberapa perusahaan besar luar lainnya pun masuk ke pasar Indonesia.
Secara kasat mata, Tokopedia tidak memiliki kemampuan untuk menandingi perusahaan-perusahaan tersebut, tapi dengan kegigihan, Tokopedia berhasil menjadi bisnis e-commerce pertama di ASEAN yang mendapat investasi $100 juta (sekitar Rp1,4 triliun).
3. Harapan
Bayangkan pejuang Indonesia yang melawan penjajah dengan senjata canggih diadu dengan bambu runcing. Kalau tidak dengan harapan yang besar atas kemerdekaan, mereka tidak akan berjuang mati-matian. Begitu juga dengan Tokopedia, harapan untuk menciptakan peluang bisnis bagi masyarakat Indonesia secara mudah dan aman yang membuat William tidak menyerah terhadap keadaan. Jika William dan seluruh tim Tokopedia butuh waktu dua tahun untuk membangun Tokopedia, sekarang semua orang bisa memiliki toko online sendiri hanya dalam 2 menit.
William memerlukan waktu tahunan untuk membuat Tokopedia seperti sekarang. Kamu bisa meniru semangatnya, terlebih kini membuat toko online sudah semakin mudah seiring perkembangan teknologi.

Bermimpi dengan mata terbuka

William merasa beruntung karena lahir di generasi internet. Berbeda dengan generasi ayah dan kakeknya yang sulit untuk memiliki kesempatan bersaing dengan para pemain besar. Tapi di generasi internet, siapa saja punya kesempatan yang sama.
"Contohnya Google dan Facebook. Google bukanlah perusahaan search engine pertama di dunia. Ada Yahoo yang dulunya begitu besar. Begitu pula dengan Facebook yang juga bukan social media pertama di dunia. Sebelum facebook ada MySpace dan Friendster yang sangat populer pada jamannya. Saat ini, Google dan Facebook membuktikan bahwa mereka bisa besar berkembang dengan kegigihan melawan segala ketidakmungkinan."
Tokopedia yang saat ini sudah memiliki 400 pegawai, tidak hanya mengubah hidup William tapi juga mengubah hidup para penjual di Tokopedia. Ada lebih dari 500.0000 penjual di Tokopedia yang berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari ibu rumah tangga, mahasiswa sampai cleaning service.
Terakhir William mengutip kata-kata dari Bung Karno
"Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang."
Pendiri bangsa Indonesia adalah seorang visioner. Jika negara ini dibangun oleh visioner yang mengajak kita untuk bermimpi besar, ini adalah tanggung jawab generasi kita untuk berani menyemangati teman-teman, adik-adik kita yang memiliki mimpi yang lebih besar dari diri mereka.
Bagi William, bermimpi yang besar itu adalah bermimpi dengan mata terbuka. Sangat sederhana, apa yang kamu mimpikan, pikirkan, ucapkan, dan lakukan itu selalu konsisten.
(Diedit oleh Pradipta Nugrahanto)


 http://www.jasuke.com/inspiratif-william-tanuwijaya-pendiri-tokopedia.php

HI!












selamat datang, selamat menikmati, semoga bermanfaat. 





with love,

Elsa